Stay Safe in Japan Update: 21/09/2018, 19:14


More Information

Teru Teru Bozu: Boneka Peramal Cuaca dari Jepang

Teru Teru Bozu: Boneka Peramal Cuaca dari Jepang

2018.07.12

Hujan memang merupakan berkah bagi alam dan manusia. Akan tetapi, ada kalanya kita ingin cuaca cerah agar tidak mengganggu kegiatan. Di saat itulah, mari memohon cuaca cerah dengan menggunakan teru teru bozu!

Diterjemahkan oleh Kinan

Ditulis oleh Mai Kawabe

Google LINE

“Ashita tenki ni nare!”

Sampai sekarang pun orang Jepang masih mengucapkannya saat memohon hari yang cerah.

Hujan memang merupakan berkah bagi alam dan manusia. Akan tetapi, saat ada acara penting seperti festival olah raga, berenang di pantai, piknik atau kegiatan outdoor lainnya tentu Anda tidak ingin turun hujan, bukan? Pada saat seperti itulah, Anda bisa memohon dengan menggunakan teru teru bozu, boneka peramal cuaca yang populer di Jepang.

Ramalan Cuaca

Dari zaman dahulu, di Jepang ada sebuah kebiasaan meramal cuaca menggunakan alas kaki. Anak-anak bermain di luar hingga petang dan bersama-sama mengayunkan alas kaki mereka sampai lepas ke udara. Pada saat itu, belum ada televisi ataupun permainan game sehingga jika hujan turun maka mereka tidak akan bisa bermain di luar. Oleh karena itu, mereka mengayunkan alas kaki sampai lepas dan memohon pada langit agar besok bisa tetap bermain di luar.

Mereka melakukannya sambil mengucapkan “ashita tenki ni nare!” atau “jadilah cuaca besok!”.

Jika alas kaki jatuh dengan menghadap ke atas mereka percaya jika esok hari akan cerah, jika miring maka akan berawan, dan jika terbalik maka akan hujan. Saking percaya pada ramalan ini sampai-sampai ada anak yang berulang kali melakukannya hingga alas kakinya jatuh menghadap ke atas. Akan tetapi, di saat benar-benar menginginkan hari yang cerah, maka mereka memohon dengan menggunakan teru teru bozu.

Apa Itu Teru Teru Bozu?

Teru teru bozu adalah boneka yang digantung di bawah atap atau jendela untuk memohon hari yang cerah. Boneka ini terbuat dari kertas ataupun kain.

Konon, pada mulanya teru teru bozu berasal dari Tiongkok dan merupakan boneka kertas berbentuk gadis kecil yang membawa sapu atau disebut soseijo (*1). Boneka ini dibawa ke Jepang pada saat zaman Heian dan mengalami perubahan bentuk dari gadis kecil menjadi bozu (biksu Buddha). Hal ini dikarenakan di Jepang para biksu melakukan ritual yang berkaitan dengan cuaca seperti permohonan hujan atau cuaca cerah.

Pada awalnya, teru teru bozu digantungkan di pohon sebab dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk mengusir roh jahat yang disebut Nanten. Kemudian, saat permohonan terkabul dan cuaca menjadi cerah, maka mereka akan menggambar mata dan mulut pada teru teru bozu, menuangkan sake di kepalanya kemudian melabuhkannya ke sungai.

(*1) Soseijo... boneka kertas berbentuk gadis kecil yang membawa sapu. Sapu dipercaya dapat membawa cuaca cerah karena merupakan jimat yang bisa menarik arwah dan keberuntungan.

Ilustrasi: Nihon Kodomo no Asobi Daizukan (Yushikan Publishing Co.,Ltd)

Teru teru bozu juga digunakan sebagai motif kertas Jepang dan muncul dalam cerita rakyat pada zaman Edo. Kebiasaan ini konon tersebar luas saat pertengahan zaman Edo.

”Waranbe ga teri teri hoshi ito na mite” (karangan: Toyo)

Lirik di atas adalah salah satu lagu yang terdapat dalam kumpulan puisi Issa (*2). Lagu tersebut menceritakan anak-anak yang sedang membuat teru teru bozu. Kemudian, pada zaman Taisho dibuatlah lagu anak berjudul “Teru Teru Bozu” dan dimasukkan ke dalam Kokugotokuhon (*3). Sejak saat itulah muncul kebiasaan anak-anak di seluruh Jepang membuat teru teru bozu untuk memohon hari yang cerah.

Teru teru bozu teru bozu
(Teru teru bozu teru bozu)

Ashita tenki ni shite okure
(Ramalkanlah cuaca esok hari)

Itsuka no yume no sora no you ni
(Seperti langit yang aku lihat dalam sebuah mimpi)

Haretara kin no suzu ageyo
(Jika cerah, aku akan memberimu lonceng emas)

(Lirik: Asahara Kagamimura, Komposer: Nakayama Shinpei)

(*2) Issa... Kobayashi Issa. Salah seorang penyair pada zaman Edo.

(*3) Kokugotokuhon... Buku teks nasional yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Jepang. Buku ini digunakan oleh semua siswa sekolah dasar di seluruh Jepang.

Mari Membuat Teru Teru Bozu

Sampai sekarang pun, di Jepang masih ada kebiasaan untuk membuat teru teru bozu. Akan tetapi, berbeda dengan cara pembuatan teru teru bozu pada zaman dahulu, banyak orang yang menggambar wajah teru teru bozu dari awal.

Di sebagian daerah di Jepang, teru teru bozu dibuat berwarna berwarna hitam dan digantungkan secara terbalik untuk memohon hujan.

Sangat mudah untuk membuat teru teru bozu. Ada beragam cara untuk membuatnya, tetapi kali ini MATCHA akan memperkenalkan cara yang paling mudah, yaitu menggunakan tisu. Yuk, kita buat bersama!

1. Siapkan Bahan!

Untuk membuat teru teru bozu, Anda hanya membutuhkan 3 bahan, yaitu:
・3-5 lembar tisu (bisa juga menggunakan kertas atau kain).
・Benda berbentuk tali untuk menggantung teru teru bozu seperti karet gelang atau pita.
・Ballpoin untuk menggambar wajah.

2. Membuat Bentuk

Pertama-tama, buat bulatan dengan 2-3 lembar tisu. Kemudian, bungkus bulatan itu dengan tisu yang tersisa. Terakhir, lingkar dan ikatkan tali pada bagian leher.

3. Menggambar Wajah

Anda bisa menggambar wajah sesuai dengan yang diinginkan walaupun pada awalnya teru teru bozu digantung tanpa wajah. Setelah itu, buatlah permohonan dan gantungkan teru teru bozu di bawah atap atau jendela.

Penutup

Saat musim hujan dan hujan turun secara terus-menerus, Anda bisa memohon hari yang cerah menggunakan teru teru bozu. Akan tetapi, ada kalanya juga teru teru bozu tidak bisa mengabulkan permohonan Anda. Di saat seperti itu sebaiknya Anda tidak menyalahkannya. Namun, apabila dia mengabulkan permohonan Anda, katakanlah “arigato” sebagai ungkapan terima kasih.

Referensi:

“Koten Haibungaku Taikei 15 Issa-shu” (Shueisha Inc.)
“Mingu no Jiten” (Kawade Shobo Shinsha Publishers Inc.)
“Nihon Kodomo no Asobi Daizukan” (Yushikan Publishing Co.,Ltd)
“Densho Asobi Jiten” (Reimei Shobo Co.,Ltd)

Topik Terkait

Google LINE