Coronavirus (COVID-19) Advisory Information

【Interview】 Penuturan Sasaki Toshinao, Apa itu "Cool Japan" yang sesungguhnya?

【Interview】 Penuturan Sasaki Toshinao, Apa itu

Diterjemahkan oleh SiauwWin

Ditulis oleh Takuro Komatsuzaki

2014.06.20 Simpan

Bulan Mei adalah waktunya "Farmer's Market" dan "Marche", dan akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk menikmati kesegaran sayuran bersama keluarga. Setelah membaca sebuah artikel "ie meshi koso, saikou no gochisou dearu(Sarapan di rumah adalah makanan mewah)" yang diterbitkan oleh Magazine House pada tanggal 27 Februari.

Dan kali ini adalah penjelasan dari seorang penulis dan jurnalis pak Sasaki Toshinao (selanjutnya akan disebut Sasaki) mengenai Makanan Jepang.

th_DSC_4383

Nasi Kucai mentah dan Dadar Kucai dari Farmer's Market

---Setelah membaca tulisan anda, saya pergi ke Farmer's Market. Benar-benar percakapan yang sangat menyenangkan. Banyak informasi yang diberikan oleh para petani di sana.

Sasaki Sangat bersahabat, dan banyak hal yang dijelaskan ya. Resep masakanpun dibagikan. Sangat menyenangkan bisa makan masakan yang sayurannya dibeli di tempat itu.

---Ya benar. Juga diajarkan cara lain dalam memanfaatkan bahan makanan. Yang paling membuat saya kaget adalah Nasi kucai mentah. Kucai mentah yang ditaburkan di atas nasi panas dan dilumuri "shoyu" (kecap jepang) benar-benar sangat enak.

Sasaki Dadar kucai (Niratama) biasanya itu kan digoreng ya, kalo saya dadar kucai dengan telur mentah.

---E? maksudnya bagaimana?

Sasaki Rebus kucai selama 10 detik. Kemudian langsung celupkan ke dalam air dingin. Setelah itu potong sepanjang 3 cm, tumpuk hingga menyerupai sarang burung. Di tengahnya akan terbentuk lubang ya kan? Taruh kuning telur di situ, kemudian siram dengan shoyu. Enak loh. Rasanya seperti dadar kucai.

---Benar-benar berbeda dengan dadar kucai biasanya ya. Inovasi masakan seperti ini benar-benar menarik. Pembuatannya tidak repot, dan tetap enak.

Sasaki Ya benar. Praktis, dan yang paling utama adalah tidak memerlukan banyak uang. Harga barang di Farmer's Market lebih murah dari pada di supermarket. Jadi, ada baiknya untuk pergi ke Farmer's Market setiap minggu (Tertawa).

Kesederhanaan keluarga Jepang di era 1950an

---Adanya "makanan simple" yang selain baik bagi kesehatan, enak dan juga tidak memerlukan banyak biaya yang muncul diantara jenis makanan fast food, makanan mewah dan makanan makrobiotik.

Apakah itu tidak membawa masalah dan ancaman terhadap budaya makanan Jepang?

Sasaki Sama sekali tidak. Semuanya harus dimulai dari sudut pandang kita sebagai pelaku. Sederhananya dimulai dari pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan sejarah Jepang, bagaimana kah posisi makanan di masa setelah perang, kita harus berusaha untuk mencari tahu sendiri.

th_DSC_4377

---Memang sama sekali tidak ada tema mengenai makanan di segi sejarah. Kemudian adanya usaha untuk memperindah. Tapi sayangnya bukan itu ya?

Sasaki Ya ya. Di benak kita semua sudah tertanam image tentang gambaran masakan rumahan tradisional, dimana seorang ibu yang memasak makanan untuk anak-anaknya dan seorang suami yang berganti baju setelah pulang kerja dan duduk bersama menikmati makanan.

Namun sebenarnya, itu hanyalah sebagian kecil kehidupan masyarakat golongan atas di era antara tahun 1930 sampai 1950an, kehidupan masyarakat umum lainnya tidaklah demikian. Keluarga Jepang hidup dengan 5 anggota dalam rumah sederhana. Semua melupakan hal tersebut, dan menggantinya dengan gambaran kehidupan yang dianggap sesuai dengan dunia mereka. Seingat saya, dulu saya sangat akrab dengan bahan makanan tambahan. Saya teringat di masa SD, ketika saya pulang ke rumah pada sabtu siang, saya makan dengan taburan Bon Curry(kare jepang instan) di atas nasi yang dingin.

Negara besar dengan beberapa masakan lezat dunia

10435229_10152475957832044_688039237_o

---Ada suatu perbedaan dalam image masakan di masa lalu dengan masakan saat ini. Selain itu, adanya kecenderungan semakin meningkatnya budaya makan di luar saat ini.

Sasaki Ya begitulah. Budaya makan di luar memang sedang marak. Di akhir tahun 1980an, terjadi perubahan besar dalam dunia masakan, saat ini budaya makan di luar Jepang mungkin merupakan nomor 1 di dunia.

---Apa yang dimaksud dengan budaya makan di luar?

Sasaki Makan di restoran, dengan kualitas dari masakan tersebut. Mencoba masakan yang katanya enak, seperti Bistro Perancis atau Roma, kemudian membuat penilaian bahwa Bistro Jepang tetap lebih enak. Tentu saja saat makan di restoran bintang tiga masakannya pasti enak, tapi ketika pergi ke bistro di tengah kota, masakan bistro di Tokyo tetap jauh lebih enak.
Selain itu, ketika kamu pergi ke Paris, yang ada hanyalah restoran masakan Perancis. Di Roma, tidak ada restoran Belanda maupun restoran Inggris. Tapi mengapa di Jepang ada banyak masakan dari berbagai negara. Karena itulah Jepang merupakan Negara Besar dengan beberapa masakan lezat dunia. Semua pasti setuju jika jumlah bintang yang diberikan akan lebih banyak dari negara lain ketika Tokyo masuk dalam Michelin*

*Buku panduan yang di terbitkan setahun sekali oleh Michelin yang di dalamnya berisi peringkat hotel dan restoran.

Masakan tradisional Jepang memang sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan kekayaan budaya, dan seharusnya kita lebih bangga lagi terhadap budaya makanan Jepang.

Adanya guncangan inovasi Seimen*

*merk mie instant yang diproduksi oleh perusahaan Maruchan

th_DSC_4379

Sasaki Sebaliknya, dunia yang demikian ini memberikan pengaruh yang cukup besar pada kualitas masakan rumahan. Setelah tahun 1990 muncul fenomena meningkatnya jumlah para pekerja dengan pendapatan tidak tetap, karena banyaknya jumlah pekerja kontrak dan part time, menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya kenginan untuk membentuk sebuah keluarga.
Dan ada kemungkinan masakan rumahan pada tahun 1970an tidak terwariskan.

---Apakah hanya perubahan non standart sajakah yang menjadi alasannya?

Sasaki Selain itu, adanya perkembangan industri makanan dalam budaya makanan Jepang. Di saat saya kuliah dulu, adalah awal dijualnya Cook Do "Mabo Nasu" (merk bumbu masakan siap pakai). "Bisa membuat masakan rumah seenak masakan di restoran China" itulah yang saya ingat.
Padahal seharusnya bumbu itu harus disiapkan sendiri, tapi nyatanya rasa masakan dengan bumbu instant bisa sesempurna rasa masakan di restoran China.

---Kemungkinan di saat itulah terjadi pemutusan masakan rumahan ya.

Sasaki Ya benar. Dengan munculnya penemuan makanan instant yang rasanya juga enak. Kemarin saya pergi naik gunung, dan membawa Seimen, rasanya benar-benar enak. Seenak ramen yang sesungguhnya. Akhir-akhir ini terus bermunculan perubahan-perubahan, dan beberapa tahun nantinya akan diikuti guncangan inovasi dalam makanan.

Cool Japan bukan pada "Moe" melainkan pada "budaya kehidupannya"

---Begitu ya. Tapi ketika makan masakan instant, tetap ada pikiran bahwa jika bisa makan masakan sendiri akan lebih baik.

Sasaki Ya, saya mengerti. Jika ada ukuran dari 0 sampai 100 dalam kehidupan sehari-hari, tidak cukupkah guncangan yang terjadi pada pekerjaan sekarang ini. Di masa sekarang ini terjadi ketidak stabilan dalam dunia kerja yang menyebabkan kehidupan kita dan hubungan sosial kita pun menjadi ikut tidak stabil. Tanpa adanya perselisihan dalam hubungan sosial dengan orang lain, kita bisa bergaul dengan banyak orang, serta adanya kestabilan dalam kehidupan dan makanan. Saya sering dibilang untuk hidup sesuai pattern yang sudah ditetapkan "kamu menjalani kehidupan sebagaimana adalah pegawai pemerintah]

---Saya juga menjadikan rutinitas saya sebagai hal yang utama.

Sasaki Begitulah. Dimana pun saya berada, beraktivitaslah sesuai dengan patternku, saat berwisata pun demikian. Seperti Airbnb dll yang sedang populer saat ini, bukan hanya mengunjungi objek wisata yang terkenal, tapi juga merasakan kehidupan sehari-hari negara tersebut, itulah yang menjadi tema akhir-akhir ini. Bukankah makanan pun juga demikian?

---Merasakan kebiasaan makanan... Bisa dibilang, dalam tulisan anda itu tersimpan pesan "Mari membangun lagi kebiasaan".

Sasaki Ya begitulah. Saya sering mengatakan, bahwa hal yang paling membanggakan dari "Cool Japan" bukan berasal dari "Moe(萌え)", bukan hanya Kabuki, upacara minum teh, tapi dari "budaya kehidupan".

th_DSC_4366

---Budaya kehidupan?

Sasaki Kita memiliki kota yang indah dan ada banyak toko yang keren, mudahnya mendapatkan sayuran yang segar, dan semua bisa membuat masakan rumah di rumah sendiri. Tadi dijelaskan bahwa masakan rumah sedang mengalami kemerosotan, tapi tetaplah kita memasak di rumah. Coba perhatikan, bukankah ada video yang mengejutkan tentang bekal makanan "bento" Jepang di luar negri, betapa hebatnya para ibu-ibu Jepang.

10376573_10152475957977044_900885606_o

---Dengan demikian, saya pun sependapat. Singkat kata, budaya kehidupan adalah kehidupan sehari-hari itu sendiri.

Sasaki Ya benar. Bukankah kebiasaan sehari-hari pada dasarnya adalah "Cool" yang sebenarnya? Terutama Tokyo. Semua memiliki gaya dalam berpakaian. Tidak memakai pakaian yang mencolok dan lusuh, tapi memakai pakaian yang simple dan berkualitas tinggi.

---Apakah "Moe" dan Anime Jepang juga "Cool"? Adanya keinginan untuk membenarkan "Cool Japan".

Sasaki Seharusnya memang lebih besar jika dilihat dari volumenya. "Moe" memiliki fans di seluruh dunia, tapi hanya di satu bagian Amerika dan Perancis,tidak semua orang Amerika ataupun Perancis menyukai "Moe". Ini disebut volume-zone yang hanya terpusat bagi orang-orang yang menyukai hal-hal tentang Jepang. Dibandingkan dengan itu, target dari budaya kehidupan Jepang memiliki jangkauan yang lebih luas. Hanya saja, masalahnya terletak pada kekurang tahuan.

Orang yang berkunjung akan terkejut dengan keindahan kota, makanan yang tidak hanya indah dilihat namun juga enak. Meskipun sedang mengalami kejatuhan, namun pastinya kita tetap bisa berbangga sebagai negara yang memiliki budaya masakan rumahan yang kaya.

10435274_10152475957447044_505660859_o

 

Informasi dalam artikel ini berdasarkan pada informasi saat liputan atau penulisan. Ada kemungkinan terjadi perubahan pada konten dan biaya layanan maupun produk setelah artikel ini diterbitkan. Silakan konfirmasi pada penyedia layanan atau produk yang bersangkutan.

Topik Terkait