Stay Safe in Japan Update: 21/09/2018, 19:14


More Information

Sisi Lain Kyoto: Para Nenek Tangguh dari Satoyama

Sisi Lain Kyoto: Para Nenek Tangguh dari Satoyama

Kyoto 2017.09.15 Simpan

Kali ini kami akan memperkenalkan wilayah bernama Kambayashi yang terletak di Kota Ayabe, timur-laut Prefektur Kyoto. Hiking dan mengupas kulit buah tochi bersama para nenek berusia 89 tahunan adalah pengalaman yang hanya dapat ditemui di sini.

Diterjemahkan oleh Aji

Ditulis oleh Anna Namikawa

LINE

Sejauh ini, MATCHA telah banyak memperkenalkan berbagai aspek mengenai Kyoto yang tidak melulu soal kuil.

Kali ini kami akan memperkenalkan wilayah Kambayashi yang terletak di Kota Ayabe, sebelah timur-laut Prefektur Kyoto. Di tempat ini terdapat kehidupan khas pegunungan warisan masa lampau yang dilestarikan oleh para nenek berusia 89 tahunan. Kira-kira apa resep panjang umur mereka? Mari kita lihat kehidupan mereka yang hidup berteman dengan hutan ini.

Apa yang akan kami perkenalkan ini merupakan bagian dari tur yang dipandu oleh sepasang suami istri Teruyuki Kuchu dan Eriko Kuchu yang tinggal di Kambayashi. Sembari piknik menikmati pemandangan langit cerah dan tur memungut buah tochi (sejenis kacang pohon), mereka akan merekomendasikan sejumlah tempat yang dapat dinikmati oleh wisatawan.

Inilah rencana perjalanan yang kami rekomendasikan jika Anda ingin menikmati sisi lain Kyoto.

Terlebih dahulu, silakan lihat artikel mengenai panduan lengkap wisata di Kyoto berikut (bahasa Inggris).

Merasakan Kehidupan Satoyama di “Satoyama Guest House Couture

元気なおばあちゃんと里山の暮らしを体験。綾部市上林で出会う

Tempat kami menginap kali ini adalah ”Satoyama Guest House Couture”. Tempat ini awalnya adalah rumah pribadi yang tidak dihuni, tetapi kemudian direnovasi menjadi sebuah guest house. Sungai yang mengalir dan sawah yang terhampar luas di sekitar “Satoyama Guest House Couture” menjadikan tempat ini asri untuk ditinggali.

Kami makan malam bersama pemilik guest house, Teruyuki Kuchu dan Eriko Kuchu. Berjejer di atas meja, aneka masakan rumahan yang dibuat dengan bahan-bahan lokal. Sayuran dan telur yang digunakan untuk membuat masakan-masakan ini diambil langsung dari kebun dan peternakan terdekat.

Sembari makan bersama kedua pemilik guest house, kami memikirkan rencana esok hari. Mereka memberitahu kami cara menikmati daerah Kambayashi sesuai dengan musim yang sedang berlangsung, dan itu sangat menarik bagi kami. Setelah berdiskusi, kami memutuskan memulai hiking besok pada pukul 7 pagi.

Melepas Lelah Setelah Perjalanan di “Ayabe Onsen”

元気なおばあちゃんと里山の暮らしを体験。綾部市上林で出会う

Sumber foto: Pak Kuchu

Guest house menyediakan fasilitas shower. Padahal ada tempat pemandian di dekatnya, yaitu "Oyabe Onsen". Jangan khawatir jika Anda baru pertama kali masuk ke onsen karena Teruyuki dan Eriko siap memberitahu Anda bagaimana caranya. Berendam di air hangat dapat menghilangkan lelah akibat perjalanan.

Di “Oyabe Onsen” Anda juga dapat membeli aneka produk lokal dan suvenir. Beberapa produk yang ditawarkan di sini adalah produk spesial yang tidak dijual di tempat lain. Maka, bergegaslah!

Sebagai tambahan, bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tata cara mandi di tempat pemandian di Jepang, silakan baca artikel berikut.

Nikmatnya Sarapan di Dalam Hutan

Keesokan harinya pukul 7 pagi kami berangkat dari guest house menuju tempat bernama Koya dengan menggunakan mobil. Di tempat ini terdapat hutan tochi yang terjaga sejak lama.

Saat kami menyusuri jalan di tengah hutan, kami menemukan katak yang berwarna serupa dengan dedaunan. Dapatkah Anda menemukan di mana kataknya?

Kami sampai di akar sebatang pohon yang berusia 1.000 tahun! Di sini kami menikmati piknik pagi yang menjadi tujuan hiking.

Selembar kain kami bentangkan. Kami kemudian menyusun menu sarapan berupa roti dan lauk-pauk yang kami bawa. Dan, selamat makan! Makan di tengah hutan seperti ini sungguh istimewa.

Di dalam hutan terdapat mata air di mana Anda dapat meminum air segar di sana. Berjanjilah untuk mengucapkan “mou-mou” kepada “Peri Hutan” penjaganya setelah Anda mendapatkan “air suci” dari mata air tersebut. Itulah tradisi di hutan ini yang masih dijaga hingga kini.

"Tochi Mochi” Buatan Para Nenek Berusia 89 Tahunan

Pagi hari saat kami berjalan menyusuri hutan, kami melihat banyak buah tochi. Bulan September saat kami mengunjungi tempat ini, bertepatan dengan musim panen buah tochi. Di tempat ini sepertinya sejak dahulu mochi atau kue beras dibuat menggunakan buah tochi. Jenis mochi yang seperti ini disebut tochi mochi.

Tradisi yang bertahan hingga kini adalah proses pembuatan tochi mochi yang dikerjakan oleh para nenek berusia 89 tahunan. Kami terkejut mengetahui hal ini.

Kali ini, kami bersama-sama mengupas kulit buah tochi. Untuk bisa terampil dalam mengupas kulit buah tochi adalah hal sulit. Namun, semakin sering dilakukan, pekerjaan ini menjadi sangat menyenangkan. Sepertimya air rebusan buah tochi memiliki efek mempercantik kulit sehingga tangan para nenek ini tetap halus.

Pada waktu istirahat sembari mengudap tochi dan almon kami berbicang dengan mereka. Saat kami menanyakan apa rahasia umur panjang nenek-nenek ini, sambil tersenyum mereka menjawab: "Bekerja! Setiap hari kami berkumpul seperti ini, bekerja sambil berbincang-bincang. Sesampainya di rumah, kami memasak sayur, menyapu, mencuci, dan lain-lain. Kami sangat sibuk."

“Kami tetap ingin beraktivitas sebagaimana selama ini kami beraktivitas di sini”, kata mereka dengan bersemangat.

Kafe Organik “Suncha cafe” yang Menyatu dengan Alam

Jika ingin merasakan berkat dari bumi yang penuh energi, silakan datang ke ”Suncha cafe”.

Lagi-lagi, kafe ini awalnya juga merupakan toko kosong yang diperbarui pemiliknya yang merupakan pasangan suami istri. Menu makan siang yang disajikan di sini menggunakan beras tanpa pestisida dan sayur yang ditanam dan dirawat sendiri oleh pemilik kafe.

Menu makan siang mingguan seharga 1.000 yen. Plus 200 yen untuk kopi organik, bebas tambah!

Hidangan penutup juga direkomendasikan. Di antaranya kue vegan yang tidak mengandung telur dan susu atau kue pai populer dengan buah-buahan musiman.

Penutup

Bagaimana menurut Anda? Apa yang kami perkenalkan kali ini adalah kehidupan sehari-hari di Kambayashi. Tentang Teruyuki dan Eriko yang memutuskan pindah dan menetap setelah merasakan daya tarik tempat ini. Mereka ingin mengabarkan daya tarik itu kepada dunia dengan mulai membuka “Satoyama Guest House Couture” dan kini merintis agen perjalanan kecil-kecilan.

Yang paling berkesan dalam perjalanan ini adalah mata pencaharian yang tetap dijaga oleh para nenek di Satoyama. Mengupas kulit buah tochi adalah kegiatan menyenangkan yang lama-lama membuat ketagihan. Dapat berinteraksi dengan para nenek yang hanya bisa ditemui di tempat ini meninggalkan memori yang mendalam bagi kami.

Jika Anda ingin merasakan suasana pedesaan di Jepang atau ingin berinteraksi dengan para nenek di Jepang, tidak ada salahnya Anda berkunjung ke Kambayashi di Kota Ayabe.

Informasi dalam artikel ini berdasarkan pada informasi saat liputan atau penulisan. Ada kemungkinan terjadi perubahan pada konten dan biaya layanan maupun produk setelah artikel ini diterbitkan. Silakan konfirmasi pada penyedia layanan atau produk yang bersangkutan.

Topik Terkait

LINE