Stay Safe in Japan Update: 21/09/2018, 19:14


More Information

【Tahun Baru】Hatsumoude -Semoga Tahun Ini pun Menjadi Tahun yang Baik-
  • 【Tahun Baru】Hatsumoude -Semoga Tahun Ini pun Menjadi Tahun yang Baik-

【Tahun Baru】Hatsumoude -Semoga Tahun Ini pun Menjadi Tahun yang Baik-

2014.12.31 Simpan

Diterjemahkan oleh SiauwWin

Ditulis oleh Ayako Motokimida

LINE

Photo by Yoshikazu TAKADA

Saat berkunjung ke Jepang di akhir maupun awal tahun, mungkin Anda akan menemukan barisan panjang orang-orang di "Jinja" maupun di kuil "Tera", sejak malam menyongsong tahun baru (oomisoka) sampai hari pertama di tahun yang baru. Orang-orang tersebut sedang melakukan Hatsumoude.

Kunjungan pertama ke Jinja atau ke kuil untuk menyambut tahun yang baru, itulah yang disebut "Hatsumoude(初詣)". 初 'hatsu' berarti awal, 詣 'moude' berarti kunjungan ke Jinja atau kuil. Disebut juga "初参り"(hatsumairi).

Photo by Guilhem Vellut

Lalu, apa sih yang dilakukan orang Jepang saat Hatsumoude?

*Jinja adalah tempat sembahyang agama Shinto, Tera atau kuil adalah tempat sembahyang agama Budha.

Pertama-tama Sembahyang

Ketika pergi ke Jinja atau kuil, yang dilakukan adalah sembahyang.
Di Jinja, sembahyang dilakukan di ruang pemujaan atau "haiden" (拝殿) dan di kuil dilakukan di kuil utama atau "honden" (本殿).
Orang-orang membuat barisan untuk mengantri bersembahyang di "haiden" maupun di "honden".

Taukah kamu apa bedanya Jinja dengan kuil Tera?
Jika terdapat gerbang berwarna merah mudah yang disebut Torii itu adalah Jinja. Di kuil atau Tera terdapat Sanmon, gerbang yang berbentuk seperti sebuah bangunan.

Photo by Photo by (c)Tomo.Yun

Sebelum mengantri di barisan, mari kita menyucikan diri kita dengan mencuci tangan dan mulut ditempat yang sudah disediakan.

Setibanya di depan "haiden" atau "honden", masukan uang persembahan. Banyak orang yang memasukan uang koin 10 yen ke dalam kotak persembahan. Ada pula orang-orang yang memasukan uang koin sebesar 5 yen dengan maksud agar mendapat jodoh yang baik. Dalam bahasa Jepang pelafan 5 yen 五円 'go en' dengan jodoh ご縁 'go en' terdengar sama.

  • Di Jinja

Tata cara bersembahyang di Jinja adalah dua kali hormat (membungkukkan badan) - dua kali tepukan tangan - satu kali hormat (membungkukkan badan).
Masukkan uang ke kotak persembahan, kemudian ayunkan tali yang menggantung tepat di hadapan Anda untuk membunyikan lonceng yang ada di atas.
Membungkuklah 2 kali di "haiden".
Selanjutnya tepukkan kedua tangan Anda dua kali. Saat kedua tangan menempel, panjatkan doa atau permohonan Anda. Terakhir, membungkuklah sekali lagi.

Link terkait: Cara sembahyang di Kuil "Ni Rei Ni Hakushu Ichi Rei"

  • Di kuil Tera

Di kuil, tidak perlu menepukkan tangan.

Masukan uang ke kotak persembahan, sama ketika bersembahyang di Jinja, bunyikan gong atau lonceng jika ada.
Tempelkan kedua telapak tangan dengan tenang, panjatkan doa permohonan.
Terakhir membungkuk untuk memberi hormat.

Di kuil, ada perbedaan cara bersembahyang berdasarkan alirannya. Namun, kebanyakan orang Jepang tidak terlalu mempermasalahkannya.
Kalau Anda tidak tahu cara bersembahyangnya, Anda bisa meniru dengan melihat cara bersembahyang orang yang ada di sekeliling Anda.

Apa yang Didoakan?

Tidak hanya terbatas pada saat Hatsumoude saja, banyak orang Jepang yang memanjatkan doa permohonan saat bersembahyang di Jinja maupun kuil.
"Semoga pekerjaan berjalan dengan lancar", "Semoga bisa segera menikah", "Semoga bisa lulus ujian", "Semoga mendapatkan bayi yang sehat", dan lain sebagainya.

Bersyukur untuk tahun lalu yang sudah terlewati tanpa masalah dan bisa melewati tahun yang baru dengan kondisi yang sehat, tampaknya itu adalah doa yang paling banyak dipanjatkan pada saat Hatsumoude yang merupakan awal dari setahun. Ada juga yang berdoa agar target-targetnya di tahun yang baru bisa tercapai.

Peruntungan di Tahun Baru! Ayo Meramal Nasib "Omikuji"

Kebanyakan di Jinja maupun di Kuil terdapat Omikuji.
Menurut pendeta agung, pada omikuji tertulis "kata-kata petunjuk" dewa maupun Budha.

Banyak orang yang mengambil "Omikuji" untuk meramalkan bagaimana keadaan di tahun yang baru dan apa saja hal-hal yang harus diperhatikan.
Pada Omikuji terdapat tingkatan ramalan mulai dari yang paling bagus 'Daikichi' (大吉), 'Chuukichi'(中吉), 'Shoukichi'(小吉), 'Suekichi'(末吉), 'Kichi'(吉), hingga yang paling buruk 'Kyou'(凶).

Photo by Hajime NAKANO

Omikuji pada foto adalah 'Chuukichi'.
Selain itu juga tertulis kata-kata ramalan untuk hal-hal seperti permohonan, orang yang ditunggu, barang yang hilang, perjalanan, usaha, sekolah, kemungkinan, jodoh, pindah rumah, dll.

Di kuil Meiji dan di kuil Asakusa,maupun kuil Narita-san Shinsho-ji terdapat Omikuji dalam bahasa Inggris.

Photo by Jeremy Hall

"Suekichi (末吉)" dan "Kyou (凶)" maupun Omikuji yang berisi ramalan yang kurang baik lainnya, bisa diikatkan ke tempat untuk pengikat omikuji yang disediakan dalam Jinja dan kuil. Ini dimaksudkan untuk menahan hal-hal yang buruk tersebut di dalam Jinja dan kuil.
Ada orang yang mengikatkan omikuji di pohon yang terdapat di taman kuil maupun Jinja, tapi tindakan itu bisa merusak pohon, jadi lebih baik mengikatnya di tempat yang sudah disediakan.

Photo by Jesslee Cuizon

Tentu saja Anda juga boleh membawa pulang Omikuji yang menurut Anda berisi ramalan baik maupun yang memberikan teguran atau nasehat pada diri Anda.

Mengecek Usia-Usia Kritis

Photo by hiroooooki

Banyak orang Jepang yang sangat peduli akan usia kritis. Yang dimaksud dengan usia kritis adalah usia-usia dimana orang-orang perlu memberikan perhatian khusus saat melewatinya, ini adalah adat kebiasaan yang sudah ada sejak zaman dulu.

Usia kritis laki-laki adalah saat menginjak usia 25 tahun, 42 tahun, 61 tahun dan pada wanita di usia 19, 33, dan 37 tahun (ada perbedaan menurut setiap lingkungan dan aliran yang dianut). Sebelum dan sesudah usia kritis pun masing-masing memerlukan perhatian disetiap masanya.

Usia 42 pada laki-laki dan 33 pada wanita adalah usia paling memerlukan perhatian khusus.

Orang-orang yang menghadapi usia kritis di tahun tersebut, akan mendapatkan doa pengusiran nasib buruk (ruwat) di saat Hatsumoude.

Di Jinja atau di kuil biasanya terdapat papan yang menuliskan tahun-tahun kelahiran orang-orang yang akan memghadapi usia kritis di tahun itu. Dengan melihatnya, kita akan tahu apakah kita termasuk dalam usia kritis atau tidak.
Doa pengusiran nasib buruk (ruwat) di Jinja dan kuil, bisa langsung diikuti saat itu juga, banyak juga orang-orang yang langsung mengikuti pengusiran nasib buruk, waktu mereka tahu ada di golongan usia kritis saat Hatsumoude.

"Ema", untuk Mewujudkan Permohonan

Photo by Sangho Jo

Ema (絵馬) adalah benda yang mengandung makna syukur dan permohonan.
Tuliskan permohonan, syukur atas permohonan yang sudah tercapai, nama dan alamat pada papan kayu yang bergambar, kemudian ikatkan pada tempat yang sudah disediakan.

Photo by Nan-Cheng Tsai

Gambar yang terlukis pada "Ema" berbeda-beda disetiap Jinja maupun kuil. Terutama di saat Hatsumoude, banyak terlihat gambar-gambar yang melambangkan shio di tahun itu. Tahun 2015 adalah tahun domba, sehingga banyak gambar domba yang dilukis pada "Ema".

Membeli Jimat Omamori dan Ofuda

Photo by Hajime NAKANO

Omamori dan Ofuda adalah jimat yang di dalamnya terdapat kekuatan dewa dan bisa dibawa kemanapun.
Ada kebiasaan mengganti Omamori dan Ofuda baru saat tahun berganti.
Ada banyak jenis Omamori seperti "pelindung rumah", "pelindung di jalan", "lancar study", "lulus ujian", "pelindung saat melahirkan", "pelindung diri". Anda bisa membeli jimat sesuai dengan permohonan Anda.

Photo by Dick Thomas Johnson

Dijual di tempat seperti yang terlihat pada foto.

Kini adapula Omamori yang dijual dengan gambar Hello Kitty dan karakter lainnya.

Ofuda biasanya diletakkan di rumah. Untuk rumah yang terdapat meja altar sembahyang, biasanya Ofuda diletakkan di sana.

Ada juga "Hamaya (破魔矢)", benda pengusir setan. Menyimpannya di rumah dengan maksud menebarkan kebahagiaan selama setahun, membuang atau mengusir keburukan.

Seperti halnya ada orang yang pasti membeli jimat setiap tahun, ada juga orang yang tidak membelinya.

Ayo Pergi ke Hatsumoude!

Semua hal-hal tadi tidak wajib untuk dilakukan. Orang yang setelah sembahyang kemudian pulang atau orang yang datang hanya untuk sembahyang dan meramal nasib "Omikuji" saja juga banyak.
Ada juga orang yang datang mengenakan Kimono pada saat Hatsumoude. Mungkin agar bisa merasakan suasana Jepang sesungguhnya.

Tidak hanya di tempat yang besar dan terkenal saja, di kuil yang kecil pun kita bisa menemukan orang-orang Jepang yang melakukan Hatsumoude.

Ketika Anda lewat di depan kuil saat tahun baru, cobalah untuk mampir.
Mari merasakan suasana khusus Jepang yang hanya ada pada awal tahun baru atau "Oshogatsu".

Informasi dalam artikel ini berdasarkan pada informasi saat liputan atau penulisan. Ada kemungkinan terjadi perubahan pada konten dan biaya layanan maupun produk setelah artikel ini diterbitkan. Silakan konfirmasi pada penyedia layanan atau produk yang bersangkutan.
LINE