Stay Safe in Japan Update: 21/09/2018, 19:14


More Information

Teknologi dan Budaya Jepang dalam Kerajinan Tradisional hingga Kontemporer

Teknologi dan Budaya Jepang dalam Kerajinan Tradisional hingga Kontemporer

2017.03.14 Simpan

Budaya dan teknologi Jepang mempunyai sejarah panjang dengan ketradisionalan dan kemodernan yang berdampingan. Simak selengkap kehebatan teknik-teknik pengrajin Jepang di artikel ini!

Diterjemahkan oleh DILA

Ditulis oleh MATCHA-PR

LINE

Budaya dan teknologi Jepang mempunyai sejarah panjang dengan ketradisionalan dan kemodernan yang berdampingan. Teknik sang pegrajin selalu ada di balik teknologi warisan leluhur dan seni kontemporer baru.

Dalam artikel ini akan disuguhkan video mengenai beragam "teknik pengrajin", mulai dari kerajinan tradisional sampai dengan teknik berburu.

1. Sapuan Kuas yang Lembut: "Kutaniyaki Akae", Prefektur Ishikawa

©MRO

Kerajinan gerabah Kutaniyaki telah ada di Prefektur Ishikawa sejak 350 tahun yang lalu. Salah satu teknik andalan dalam pembuatannya adalah "akae" yang menghasilkan gerabah berlukis dominan warna merah.

Buzan Fukushima adalah seorang pelukis akae ternama. Ia menggunakan teknik "akae saibyo", yaitu menggambar garis-garis halus setebal 0,1 milimeter dari oksida besi merah dengan menggunakan tangan. Dengan teknik tersebut ia mengatur tebal tipisnya garis dan menghasilkan berbagai bentuk mulai dari pola, manusia, sampai pemandangan.

Gerabah pada video bernama "Sakuramai" ini dikerjakan dalam waktu 10 hari. Gerabah berdiameter 49 cm ini menggambarkan badai sakura yang indah. Pekerjaan membuat gerabah ini membutuhkan konsentrasi tinggi, ritme yang konsisten, dan ketepatan. Inilah salah satu "teknik pengrajin" yang esensial.

2. Pemburu Handal: "Ezoshika-kari", Hokkaido

©HBC

"Tidak berbau", "daging dihilangkan darahnya dengan baik", itulah ciri khas daging rusa lokal hasil buruan para pemburu ahli.

Rusa yang lincah bergerak di tengah hutan bersalju ditembak dari jarak jauh. Membidiknya saja adalah hal yang sulit, apalagi menjaga agar daging tidak rusak saat rusa berusaha menyelamatkan diri setelah ditembak. Itulah teknik sulit yang harus dikuasai pemburu handal.

Restoran Hamanasu
Alamat: 2 Chome Higashi 2 Jōminami, Shiranuka-chō, Shiranuka-gun, Hokkaidō
Nomor telepon: 01547-2-2188

3. Teknik Berumur 350 Tahun: "Pandai Besi Tsugaru", Prefektur Aomori

©ATV

Kota Hirosaki, Prefektur Aomori dikenal memiliki lebih dari 100 pandai besi saat zaman Edo. Meskipun sekarang ini jumlah pandai besi sudah berkurang, teknik penempaan besi yang diwariskan secara turun-temurun tetap terjaga.

Salah satu contohnya adalah Pabrik Penempaan Besi Nigara. Pabrik ini terkenal sebagai tempat penempaan besi terkemuka sejak zaman para samurai masih berkuasa di Jepang. Pak Toshihisa Yoshizawa, direktur pabrik ini, adalah salah seorang pewaris teknik pandai besi tradisional yang telah ada sejak 350 tahun lalu. Selain sebagai direktur, beliau juga seorang pandai besi handal yang menghasilkan berbagai produk orisinal seperti pisau.

Pabrik penempaan besi ini bahkan pernah berpartisipasi dalam pameran produk di Eropa yang merupakan sebuah tantangan baru bagi para pandai besi.

Pabrik Penempaan Besi Nigara
Alamat: 4-1 Kinzokuchō, Hirosaki-shi, Aomori-ken
Nomor telepon: 0172-88-2881
Situs resmi: Nigara Forging Co., Ltd.

4. Jembatan yang Dipenuhi Grafiti: "Jembatan Kombinasi Mural Besar", Prefektur Hiroshima

©RCC

Jembatan Shinkoibashi melintang di atas sungai Ota yang mengalir di Kota Hiroshima. Jembatan kombinasi yang penuh dengan grafiti ini terlihat seperti karya mural yang besar. Hal itulah yang membuat karya seni raksasa ini dicintai warga lokal.

Mural raksasa dengan panjang 16,5 m dan lebar 2,4 m ini dilukis oleh pelukis Kozue Kodama. Mural yang dilukis pada tahun 2007 ini memakan waktu pengerjaan selama 3 bulan.

Di sini digambarkan Komponen kehidupan warga Hiroshima, misalnya pemandangan Sungai Ota yang menghubungakn gunung dengan Taman Perdamaian, kuil dan dewa yang menjadi asal nama daerah Koi, Museum Bom Atom, Stadion Hiroshima, kereta 651 go yang terkena bom atom.

Gambar dalam video yang berjudul "Hiroshima no Inochi Otagawa" (Sungai Ota, Nyawa dari Hiroshima) ini memenangkan penghargaan "Desain Seni Kota Hiroshima Tahun 2008". Sang pelukis sendiri membuat mural ini dengan harapan agar penikmatnya merasakan hubungan yang dekat antara air dan kehidupan manusia melalui sejarah Sungai Ota.

Mural besar ini masih terlihat indah di bawah Jembatan Shinkoibashi meskipun sudah 10 tahun berlalu sejak karya ini dibuat.

Jembatan Shinkoibashi
Alamat: 1 Chome Koihonmachi, Nishi-ku, Hiroshima-shi, Hiroshima-ken

5. Warna Ungu yang Elegan: "Nanbu Shikon Zome", Prefektur Iwate

©IBC

Kerajinan kain "Nanbu Shikon Zome" diwariskan di Kota Morioka, Prefektur Iwate.

Ciri khas kain ini adalah warna ungu elegan yang dipadu dengan pola cantik hasil teknik celup. Membuat Nanbu Shikon Zome bukanlah pekerjaan yang sederhana. Pewarna kain didapat dari tumbuh-tumbuhan murasaki yang ditumbuk dalam lesung, kemudian dipanaskan hingga keluar minyaknya. Minyak itulah yang digunakan untuk mewarnai bahan kain. Pewarnaan dasar butuh waktu setengah tahun, sedangkan teknik celupnya memerlukan waktu 2-3 bulan. Diperlukan setidaknya 12 kali proses pewarnaan dan setelah diwarnai dengan warna ungu kemudian harus disimpan dalam rak khusus selama 3-5 tahun. Tujuannya adalah untuk memunculkan warna khas Nanbu Shikon Zome.

Kain ini biasanya digunakan untuk bahan kimono. Daya tariknya adalah semakin dicuci, maka akan terjadi perubahan yang khas pada warna dan pola kain. "Kekhasan warna kain ini tidak akan keluar hanya dalam satu generasi saja". Oleh karena itu, kimono berbahan kain ini biasanya diwariskan turun-temurun dari seorang ibu ke anaknya, ke cucunya, dan seterusnya.

6. Teknik Zaman Sengoku di Zaman Modern: "Samurai Armor Bag", Kyoto

©MBS

Pada zaman Sengoku para samurai di Jepang mengenakan pakaian perang, tapi sekarang kesempatan untuk memakai pakaian perang sudah tidak ada. Akan tetapi, ada kerajinan masa kini yang memanfaatkan teknik pembuatan pakaian perang tersebut.

Kerajinan tersebut adalah Samurai Armor Bag (Kacchu Kaban). Produsennya adalah "Kyoningyo Miyake" di Kyoto. Pada zaman dulu pakaian perang dibuat agar rangkaiannya tidak hancur meski ditembus pedang sekalipun. Cara pembuatannya pun berbeda-beda berdasarkan sang pemakai. Hal ini pun diterapkan dalam pembuatan Samurai Armor Bag.

Kyoningyo Miyake
Alamat: Minamihoriike-103-53 Ogurachō, Uji-shi, Kyōto-fu
Nomor telepon: 0774-22-5008
Situs resmi: Kyoningyo Miyake

Penutup

Kerajinan kain dengan teknik yang telah diwariskan selama ratusan tahun, karya seni kontemporer mural yang besar, tas yang dibuat dengan memanfaatkan teknik pembuatan pakaian perang, dan masih banyak lainnya. Demikian teknik-teknik para pengrajin Jepang yang telah kami perkenalkan.

Seperti yang telah diterangkan di awal, Jepang adalah negara dengan ketradisionalan dan kemodernan yang hidup berdampingan. Baik pecinta budaya tradisional dan sejarah maupun pecinta budaya kontemporer, Jepang adalah negara yang tepat untuk dikunjungi.

Disponsori oleh Tokyo Broadcasting System Holdings, Inc.


Informasi dalam artikel ini berdasarkan pada informasi saat liputan atau penulisan. Ada kemungkinan terjadi perubahan pada konten dan biaya layanan maupun produk setelah artikel ini diterbitkan. Silakan konfirmasi pada penyedia layanan atau produk yang bersangkutan.

Topik Terkait

LINE