Stay Safe in Japan Update: 21/09/2018, 19:14


More Information

Pesona Fukushima di Mata Orang Asing yang Tinggal di Sana

Pesona Fukushima di Mata Orang Asing yang Tinggal di Sana

Fukushima 2019.03.04 Simpan

Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Fukushima terus bertambah setiap tahunnya. Di antara orang asing yang datang, ada juga yang memutuskan untuk menetap di sana. Apa alasan mereka? Temukan jawabannya dalam artikel ini.

Diterjemahkan oleh Kinan

Ditulis oleh MATCHA-PR

LINE

Alasan Mereka Tinggal di Fukushima

福島

Pictures courtesy of Fukushima Prefecture Tourism & Local Products Association (kiri atas, kanan bawah)

Fukushima adalah prefektur yang selalu menunjukkan panorama dan keindahan berbeda di setiap musim. Anda bisa melihat keindahan sakura di musim semi, momiji di musim gugur, dan hamparan salju di musim dingin.

Sekarang, jumlah wisatawan yang datang karena pesona panorama khas Jepang di Fukushima meningkat drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai lebih dari 100 ribu orang dalam setahun.

Di antara para warga negara asing ini, ada juga yang memutuskan untuk menetap di Fukushima. Apakah alasan mereka?

Untuk mengungkap alasan itu, kali ini MATCHA mewawancarai dua warga negara asing yang tinggal di Fukushima.

1. Zoë Vincent yang Memperkenalkan Pesona Fukushima ke Luar Jepang

福島

Pertama-tama, MATCHA mewawancarai Zoë Vincent.

Zoe adalah seorang wanita berkebangsaan Inggris yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Prefektur Fukushima.

福島

Peta seluruh Prefektur Fukushima dan Kota Fukushima

Dia bekerja di Fukushima Prefecture Tourism & Local Products Association yang ada di Kota Fukushima. Seperti ditunjukkan pada peta di atas, Kota Fukushima berada di Prefektur Fukushima bagian utara.

福島

Pekerjaan Zoe adalah menarik para wisatawan asing untuk berkunjung ke Prefektur Fukushima.

Isi pekerjaan ini mencakup banyak hal, salah satunya mengelola situs Rediscover Fukushima.

Dia mengunjungi tiap daerah di Prefektur Fukushima, mengambil foto, dan menuliskan artikel blog dalam bahasa Inggris.

Blog yang Menarik Perhatian Banyak Wisatawan

福島

Picture courtesy of Fukushima Prefecture Tourism & Local Products Association

Zoe memiliki motto “menulis pengalaman yang benar-benar dia lakukan sendiri”.

Blog yang ditulisnya berisi lebih dari 130 artikel dan sebagian besar adalah pengalaman menyenangkan dari tempat-tempat yang dia kunjungi sendiri.

”Prefektur Fukushima memiliki banyak tempat mendaki gunung dan hiking yang terkenal. Akan tetapi, saat akan menulis artikel, paling tidak satu kali saya harus mencobanya sendiri. Saya perlu memastikan rute, waktu perjalanan, dan tingkat kesulitannya karena masih sedikit informasi tentang hal tersebut dalam bahasa Inggris”, ucap Zoe.

Artikelnya tidak hanya berisi informasi dasar, seperti ada tidaknya notasi bahasa Inggris dan jadwal kereta atau bus, Zoe juga membuat informasi lebih detail dengan mencantumkan peta dan ilustrasi yang dia buat sendiri.

福島

Picture courtesy of Fukushima Prefecture Tourism & Local Products Association

Artikel yang memuat begitu banyak informasi ini tentu saja mendapat banyak komentar dari pembaca.

Banyak pertanyaan yang muncul seperti, “Saya akan pergi ke Fukushima pada kesempatan berikutnya, apakah ada taksi dari stasiun?”, “Apakah ada notasi bahasa Inggris di dalam museum seni?”, atau “Apakah cukup aman jika saya mengajak anak saya untuk mengunjungi Fukushima?”

Zoe menjawab satu per satu pertanyaan dan memberikan solusi pada pembaca sebelum mereka melakukan perjalanan. Komentar dari pembaca pun terus bertambah dan menjadi penanda kesuksesan blog yang ditulisnya.

Memperlancar Komunikasi dengan Communication Board

福島

Sekarang, perkerjaan utama Zoe adalah memperlancar penerimaan wisatawan asing yang datang ke Fukushima.

“Di Prefektur Fukushima masih sedikit penginapan atau hotel yang memiliki pelayanan multi bahasa. Oleh karena itu, saya membuat communication board dan membagikannya pada para karyawan penginapan dan hotel”, kata Zoe.

Communication board digunakan pihak hotel untuk menyampaikan informasi pada tamu, seperti hal yang perlu diperhatikan saat menginap dan lainnya. Papan ini juga digunakan para tamu saat ingin menyampaikan suatu hal ke pihak hotel, seperti ada tidaknya alergi dan lainnya. Penggunaannya sangat mudah karena mereka hanya perlu menunjuk dengan jari tentang hal yang ingin disampaikan.

“Sebelumnya saya mendengarkan secara langsung percakapan di penginapan atau hotel. Kemudian, menjadikan inti percakapan itu sebagai panduan membuat communication board. Hal itu dilakukan sambil terus melakukan peningkatan kualitas”. (Zoë Vincent)

”Jangan Khawatir karena Saya Ada di Sini!”

福島

Zoe juga pernah mengikuti pertemuan bisnis di luar Jepang terkait dengan pekerjaannya. Saat itu, ada juga yang menanyakan, “Apakah tidak apa-apa untuk pergi berwisata ke Fukushima?”, karena khawatir dengan dampak bencana nuklir pada tahun 2011.

“Pada saat seperti itu, saya akan menjawab jangan khawatir karena saya ada di sini! Oleh karena masih sedikit orang yang tahu tentang Prefektur Fukushima secara detail. Sepertinya mereka bisa merasa tenang jika dijelaskan bahwa masyarakat di Fukushima menjalani kehidupan normal seperti biasa”.

Hari ini pun Zoe dengan senyumnya yang menawan, tetap membagikan informasi agar wisatawan asing yang datang ke Prefektur Fukushima lebih dapat menikmati perjalanan mereka.

”Jika dibandingkan dengan Kyoto dan lainnya, Prefektur Fukushima belum banyak dikenal di luar Jepang. Akan tetapi, Fukushima memiliki pemandangan indah dan tempat yang kental dengan budaya tradisional Jepang yang tidak kalah dengan spot wisata Jepang lainnya. Selain itu, suasananya tenang sehingga Anda juga bisa menikmati waktu pribadi dengan santai. Datanglah dan puaskan diri Anda dengan berbagai pesona Jepang yang ada di Prefektur Fukushima, mulai dari pemandangan terbaik hingga sake Jepang terbaik", ucap Zoe di akhir wawancara dengan MATCHA.

Rediscover Fukushima: https://rediscoverfukushima.com/ (bahasa Inggris)

2. Jo Sen I yang Sudah Hidup Sebagai Orang Fukushima

福島

MATCHA melanjutkan perjalanan ke Kota Mishima.

福島

Peta seluruh Prefektur Fukushima dan sekitar Kota Mishima

Kota Mishima ada di daerah pegunungan di bagian barat Prefektur Fukushima. Untuk mencapainya Anda perlu naik kereta selama 1,5 jam dari daerah wisata Aizu-Wakamatsu yang ada di bagian barat Prefektur Fukushima. Kota Mishima masuk dalam daerah zona salju lebat dengan ketinggian salju lebih dari 2 meter saat musim dingin.

Di kota ini, MATCHA bertemu dengan Jo Sen I. Jo berasal dari Shanghai, Tiongkok dan juga memutuskan untuk tinggal di Fukushima. Dia aktif sebagai anggota Community-Reactivating Cooperator Squad (CRCS) (※1) di area Okuaizu yang ada di Kota Mishima.

※1. Community-Reactivating Cooperator Squad (CRCS) ... komunitas ini ada di daerah Jepang yang mengalami penurunan jumlah penduduk dan bertambahnya lansia. Anggota komunitas yang datang ke sini akan tinggal menetap sambil membantu semua kegiatan yang diadakan di daerah tersebut.

福島

Jo memilih tinggal di Kota Mishima yang jauh dari pusat kota dan bersalju lebat.

Saat MATCHA bertanya, “Apakah Anda tidak kesepian tinggal di sini?”, dia menjawab sambil tertawa. “Saya sudah bosan dengan hiruk-pikuk kota besar seperti Shanghai, kota asal saya”, tuturnya.

”Di Kota Mishima, saya juga bisa merasakan empat musim dengan jelas. Saya tumbuh di Shanghai dan baru pertama kali tinggal di tengah alam seperti ini. Oleh karena itu, kedatangan saya ke Jepang menjadi bermakna. Penduduk lokal dan orang-orang yang datang dari luar Jepang, sama seperti saya pun sangat ramah sehingga terasa menyenangkan tinggal di sini”.

Datang ke Fukushima di Hari Sebelum Terjadi Bencana

福島

Jo saat bekerja di kantor Shanghai Prefektur Fukushima (kanan atas foto) Picture courtesy of Jo Sen I

Jo pertama kali datang ke Fukushima pada 10 Maret 2011, satu hari sebelum terjadi gempa dan tsunami Tohoku.

Pada saat itu, Jo bekerja di Shanghai, kota asalnya, di kantor Prefektur Fukushima-Shanghai.

Hari itu, dia bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak dari orang Jepang yang tinggal di Shanghai ke kampung halaman mereka di Fukushima. Setelah pekerjaannya selesai, Jo melakukan kegemarannya, yaitu naik kereta di berbagai jalur di Jepang. Saat itu dia menuju ke Kansai dan ketika itulah gempa terjadi.

”Saya meninggalkan anak-anak itu dan Fukushima. Saya merasa sudah mengkhianati Fukushima. Oleh karena tidak berada di sana saat bencana terjadi, saya tidak bisa merasakan perasaan yang sebenarnya dari masyarakat Fukushima dan tidak bisa menghibur perasaan para korban”.

Penyesalan mendalam yang dirasakan Jo secara bertahap berubah menjadi perasaan yang kuat terhadap Fukushima. Hal itu membuatnya ingin bekerja di Fukushima suatu hari nanti.

福島

Jo melakukan PR Fukushima di Asakusa, Tokyo Picture courtesy of Jo Sen I

Pada saat itu, Jo mengetahui tentang adanya lowongan coordinator for international relations di Fukushima dan dia pun segera mendaftarkan diri. Jo berhasil mendapatkan pekerjaan itu dan bertugas menyampaikan informasi tentang Fukushima untuk negara asalnya.

”Saya ingin tahu pesona Fukushima yang bahkan tidak diketahui oleh orang Fukushima”, ungkapnya. Kemudian, dia berusaha mendapatkan surat izin mengemudi dan pergi ke berbagai tempat di dalam Prefektur Fukushima.

Masa tugas Jo selama 5 tahun sudah berakhir pada tahun 2018, tetapi dia tidak pulang ke Tiongkok.

Ingin Bekerja Sekali Lagi di Fukushima

福島

“Selama 5 tahun menjadi coordinator for international relations, tugas utama saya adalah menerjemahkan informasi tentang Prefektur Fukushima yang tidak dapat dikunjungi wisatawan Tiongkok akibat dampak gempa dan bencana nuklir, ke dalam bahasa Mandarin”, kata Jo.

Jo merasa belum bisa melakukan apapun untuk Fukushima. Oleh karena itu, bersamaan dengan berakhirnya masa tugas, dia mendaftarkan diri sebagai Community-Reactivating Cooperator Squad di daerah Okuaizu.

Saat ini, Jo mengembangkan produknya sendiri di area Okuaizu sebagai Community-Reactivating Cooperator Squad dan mendukung orang-orang yang bermigrasi ke daerah ini.

”Saat mencoba benar-benar tinggal, tidak hanya hal menyenangkan saja yang terjadi. Kesulitan dalam membuat produk sendiri dan sedikitnya jumlah imigran menjadi masalah yang saya rasakan”.

Ada kalanya, dia berpikir tentang makna keberadaannya di Fukushima. Meski begitu, dia tetap bercerita dengan tatapan mata yang meyakinkan. 

福島

”Saya menemukan kebahagiaan terbesar dalam hidup di Fukushima. Di sini pula saya bertemu dengan istri, hingga kami memiliki dua orang anak”.

Saat ini, Jo tinggal di Kota Mishima bersama dengan istri sambil membesarkan kedua anaknya.

Ada hal yang disukai dan ingin diubah dari Fukushima. Jo berpikir demikian karena sudah merasa sebagai “orang Fukushima” dan merasa Fukushima adalah bagian dari dirinya.

Panorama yang Memikat Jo

福島

Pada saat MATCHA melakukan liputan, Jo berkunjung ke festival salju yang digelar di daerah.

Sambil berbincang dengan penduduk lokal, MATCHA ikut serta dalam perayaan tradisional yang disebut dango sashi (※2).

※2. Dango sashi... perayaan tradisional wilayah Aizu, Fukushima. Perayaan ini dilakukan dengan menusukkan kue dango ke dahan pohon untuk mengharapkan panen yang baik.

福島

Lalu, bagaimana awal mula Jo tahu tentang Fukushima?

“Saat mahasiswa, saya melihat Tadami Line di buku dan berpikir ingin menaiki kereta yang melewati jalur ini suatu saat nanti”.

Tadami Line adalah jalur kereta dari Aizu-Wakamatsu yang menuju area Niigata dengan melintasi Kota Mishima. Jalur ini juga dikenal sebagai jalur kereta paling romantis di dunia sehingga banyak orang dari seluruh dunia berdatangan untuk melihatnya.

Tempat terbaik untuk melihat keindahan Tadami Line ini dapat dicapai selama 3 menit perjalanan dengan mobil dari tempat digelarnya festival salju. Panorama inilah yang menjadi awal kedatangan Jo ke Fukushima.

福島

Pemandangan pada foto di atas inilah yang sudah memikat hati Jo. Kereta muncul secara perlahan dari balik pepohonan di tengah salju yang turun menggunung. Derak bunyi kereta yang melaju di atas jembatan menggema di tengah sunyinya pegunungan.

Setelah kereta berlalu, suasana Fukushima yang bersalju kembali menjadi tenang.

Alasan Jo Tinggal di Fukushima

福島

Menurut Jo, keramahan hati penduduknya juga merupakan pesona dari Fukushima.

”Keramahan yang terasa dari satu per satu penduduk yang tinggal di Fukushimalah yang membuat saya terus tinggal di sini”.

福島
福島

Suara anak-anak menggema dari tempat digelarnya festival salju

”Apakah tidak apa-apa mengunjungi Fukushima?”, sama halnya seperti Zoe, Jo pun pernah mendapat pertanyaan tersebut dari temannya. Jo pun menjawab sambil menatap ke depan, “Saya dan semua orang di sini sehat. Di Fukushima, semua orang hidup dengan sehat dan itu sudah cukup bagi saya”.

Mari Pergi Mencari Pesona Fukushima

福島

Picture courtesy of Fukushima Prefecture Tourism & Local Products Association (kanan bawah)

Zoe dan Jo berada dalam keadaan yang berbeda. Kesamaan keduanya adalah mereka menyampaikan hal yang mereka rasakan dan lihat secara langsung.

Kemudian, mereka juga mengatakan jika masih ada pesona dari Fukushima yang belum ditemukan.

Jangan khawatir untuk berkunjung ke Fukushima. Silakan datang dan rasakan keramahan dari penduduknya serta temukan berbagai pesona lain dari Fukushima!

In cooperation with Zoë Vincent, Jo Sen I, Fukushima Prefecture Tourism & Local Products Association, Mishima Tourist Association Karan Koron, Mishima Town Tourism Association

Pictures by Eri Miura
Sponsored by The Ministry of Economy, Trade and Industry

Informasi dalam artikel ini berdasarkan pada informasi saat liputan atau penulisan. Ada kemungkinan terjadi perubahan pada konten dan biaya layanan maupun produk setelah artikel ini diterbitkan. Silakan konfirmasi pada penyedia layanan atau produk yang bersangkutan.

Topik Terkait

LINE